Beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia yang menjadi sumber utama karbohidrat dan energi. Beras berasal dari tanaman padi yang diolah melalui beberapa tahap hingga siap dikonsumsi.
Padi atau Oryza sativa adalah tanaman penting yang telah dibudidayakan sejak lama dan diperkirakan berasal dari wilayah India atau Indo-Cina. Untuk menghasilkan beras, diperlukan proses yang panjang, mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemanenan, penjemuran, hingga penggilingan padi.
Sebelum panen, padi harus dipastikan sudah cukup umur dan dipanen dengan alat serta metode yang tepat. Jika proses panen dilakukan secara tidak benar, hasil panen bisa berkurang dan kualitas beras menjadi rendah. Oleh karena itu, pemanenan padi perlu dilakukan dengan cermat agar hasilnya maksimal.
Panduan Cara Memanen Padi Untuk Petani
Pemanenan padi umumnya dilakukan saat malai berusia sekitar 30–35 hari setelah berbunga secara merata, atau ketika sekitar 90–95% gabah pada malai telah berubah warna menjadi kuning. Pada kondisi tersebut, padi sudah siap dipanen agar hasil dan kualitasnya tetap terjaga. Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan dalam proses pemanenan padi:
1. Ani-ani
Pada masa lalu, petani banyak memanen padi menggunakan alat tradisional bernama ani-ani. Hal ini disebabkan karena padi saat itu belum bisa matang dan menguning secara serempak seperti sekarang. Dengan keterbatasan teknik budidaya, seperti penanaman dan pemupukan, panen dilakukan secara bertahap menggunakan ani-ani.
Seiring perkembangan teknologi pertanian, metode tanam semakin maju sehingga padi dapat menguning secara bersamaan. Selain itu, kini telah tersedia berbagai mesin pertanian modern yang mempermudah proses panen. Meski begitu, penggunaan ani-ani tetap menjadi tahap awal dalam metode panen tradisional.
Setelah tangkai padi dipetik dan dikumpulkan, bulir padi dipisahkan dari batangnya dengan cara dipukul menggunakan alat sederhana seperti kayu. Agar gabah benar-benar terlepas, proses dilanjutkan dengan penggilasan secara manual menggunakan kaki.
Hingga saat ini, ani-ani masih digunakan oleh sebagian petani atau buruh tani, terutama untuk memanen padi ketan. Selain itu, alat ini juga umum dipakai untuk memanen padi lokal yang memiliki batang tinggi. Pada masa lalu, masyarakat Jawa hampir selalu menggunakan ani-ani sebagai alat utama saat musim panen tiba.
2. Sabit
Sabit merupakan alat panen padi yang umum digunakan oleh petani. Alat ini berperan penting dalam proses pemanenan padi yang sudah siap dipanen karena ringan, sederhana, dan mudah digunakan.
Sabit, khususnya jenis sabit bergerigi, biasanya digunakan untuk memotong padi varietas unggul berbatang pendek seperti IR-64 dan Cisadane. Penggunaan sabit bergerigi sangat dianjurkan karena mampu mengurangi kehilangan hasil panen hingga sekitar 3%.
3. Papan Gebyok
Papan gebyok digunakan dalam proses perontokan padi secara manual setelah batang padi dipanen menggunakan sabit atau arit. Metode panen dengan sabit dinilai lebih cepat dibandingkan penggunaan ani-ani.
Setelah padi dipotong, tahap berikutnya adalah memisahkan bulir padi dari tangkainya. Proses ini dilakukan dengan alat sederhana berupa papan gebyok yang terbuat dari kayu. Cara kerjanya masih manual, yaitu dengan menghentakkan atau menghempaskan batang padi ke papan kayu. Proses ini dikenal dengan sebutan gepyok padi dan bertujuan agar bulir padi terlepas dari tangkainya.
4. Erek
Jika penggunaan alat perontok padi dilakukan secara bergotong royong, proses perontokan akan menjadi lebih mudah dan dapat diselesaikan dengan lebih cepat, sehingga pekerjaan panen terasa lebih ringan dan efisien. Namun dalam desain alatnya, gross menggunakan teknologi sederhana yaitu dengan memanfaatkan roda berporos atau system otel sehingga para perontok harus terus menggayuh otelan yang ada pada kanan dan kiri bawah alat perontok padi ini.
Erek yang awalnya manual, perlahan menjadi Mesin Erek meski belum begitu canggih. Sehingga fungsinya belum begitu teratur untuk membantu petani dikala panen.